Gersik (bukan Gresik) dalam Metriks: Buku Puisi dari Batara yang Kesan Pertamanya Biasa Saja.

Kesan Kedua? terserah anda





1. Kenapa bikin buku ini (Gresik dalam metriks)?


Gersik yak, bukan Gresik. Kalau Gresik merek kota yang jadi nama semen (eh kebalik).


Jadi awalnya karena pandemi. Saya merasa sayang aja kalau tidak memanfaatkan pandemi sebagai momentum untuk berkarya. Nah, awalnya memang saya niatkan satu buku satu tahun, tapi karena terjebak di NZ, gak bisa pulang, penerbitan di sini mahal, yasudah saya buat jadi ebook saja.


Sayang loh kalau tahun 2020 kita gak berkarya, karena bakal dikenang dalam sejarah umat manusia. Jadi kalau di masa depan generasi selanjutnya tanya ke saya, ngapain aja di tahun 2020, saya bisa jawab "lagi kuliah dan nulis buku".


Bahwa manusia bersama realitas yang kita yakini ini adalah sekumpulan data dalam matriks kehidupan yang dikendalikan oleh sistem Tuhan. - Batara


2. Konsep buku ini?


Formatnya kan ebook, konsepnya itu bisa kita bagi ke dalam dua bagian.


Pertama, saya terinspirasi dengan teori bahwa hidup hanyalah simulasi. Teori ini cukup mahsyur dan sering diangkat dalam budaya populer, seperti dalam trilogi the Matrix atau dalam album The Stage-nya Avenged Sevenfold. Somehow saya berpikir, bahwa dalam beberapa kemungkinan, teori ini agak bersesuaian dengan agama (Islam khususnya), misalnya, kan dalam kepercayaan agama-agama, kita hidup sementara, lalu ada akhirat di mana itulah "rumah" abadi kita.


Kedua, yang lebih banyak saya bahas sebenarnya mengenai kehidupan kita yang serba digital (bukan Digimon). Maksudnya selama pandemi, suka tidak suka, kita itu dipaksa untuk semakin bergantung pada teknologi dan digitalisasi segala hal. Bahkan, seolah sudah tak ada jarak. Rapat atau pertemuan, pakai Zoom, akhirnya kita benar-benar masuk ke dalam kebudayaan layar (screen culture).


Nah ini yang berusaha saya respons, Pak. Virtualisasi, komputerisasi, dan digitalisasi segala hal yang manusia punya (aka. teknologi). And somehow, itu beririsan dengan apa yang saya jelaskan di bagian pertama mengenai simulation theory. Bahwa manusia bersama realitas yang kita yakini ini adalah sekumpulan data dalam matriks kehidupan yang dikendalikan oleh sistem Tuhan.


3. Isi bukunya apa sih?


Buku puisi, jadi isinya puisi 🤣


iya ya, bener juga. ngapain juga gw tanya wkwkwk. masa isinya gurita. nanti dikira takoyaki. lol


4. Inspirasinya dari mana aza puisinya?


Inspirasinya dari kehidupan sehari-hari sih kebanyakan. Pengalaman pribadi juga sebagai upaya merespons budaya populer macam musik, film, media sosial, komim, dll. Makanya ada satu bab berjudul "Yang Bisa Kalian Dengarkan". Itu hasil dari merespons musik di Spotify dan YouTube.


"Seorang Firaun yang Berlayar ke Orion", sebuah puisi untuk istri saya. - Batara

5. Dari semua puisi... Mana yg paling syahdu banget?


Hmmm susah jawabnya ini hahaha karena bagi saya, semuanya itu spesial dan punya ceritanya sendiri-sendiri. Semua puisinya dibuat dengan konsep dan teknik penulisan yang matang (menurut saya loh), editnya sampai berkali-kali.


Tapi kalau disuruh pilih, mungkin dua favorit saya itu adalah "Simulasi", karena seolah menjadi kesimpulan buku ini, dan "Seorang Firaun yang Berlayar ke Orion", sebuah puisi untuk istri saya.



6. Tujuan buku ini? Apakah dirimu berniat membuat orang menulis puisi? Atau gimana?


Biar kalau ditanya tahun 2020 aku ngapain? Jawabnya, bikin buku wkwk sama ini kan ebook, insya Allah tahun depan, versi cetaknya akan dibuat, dengan tambahan beberapa puisi.


Jadi ini tuh sebenarnya hanyalah sebuah "simulasi" dari buku puisi yang akan terbit tahun depan. Sesederhana itu.


Tidak ada niat apakah ingin membuat orang semuanya cinta puisi, tapi bisa jadi sebagai pesan bahwa menulis puisi itu tidak harus pakai kata-kata waw atau dengan inspirasi atau ilham yang wadidaw, dengan merespons kehidupan sehari-hari yang dekat dengan kita, macam media sosial, diramu dengan kata-kata sederhana yang tepat, kita sudah bisa menulis puisi yang bisa menyentuh beberapa orang. Karena puisi milik kita semua.


7. Mengapa harus baca buku Gersik dalam Metriks?


Buku ini memberikan petualangan yang baru dalam sebuah pengalaman segar dalam membaca ebook. Ada teka-teki, ada baper-bapernya, ada hikmah, ada pelajaran baru. Puisinya ada yang butuh mikir, tapi ada juga yang sederhana. Seru sih. Seperti membaca sambil bermain. Apalagi bisa cepat ditamatkan, hanya sekali duduk.


menulis puisi itu tidak harus pakai kata-kata waw atau dengan inspirasi atau ilham yang wadidaw - Batara