Pandemi Corona: Antibodi dari 'ibu' yang Bernama Bumi?



Penulis: Batara Al Isra


Kita sedang berada di masa-masa sulit. Virus corona yang sudah jadi pandemi melumpuhkan hal-hal krusial yang sehari-hari biasa kita lakukan. Ketemu teman-teman, nongki di cafe, bekerja, jalan-jalan, dan hal-hal lain. Orang-orang yang sadar dan melakukan physical distancing kini mendekam di rumah, melakukan hal-hal yang mungkin sudah tidak pernah dilakukan sebelumnya. Sementara itu, orang-orang yang belum sadar mengenai bahaya virus ini, masih berseliweran di jalan-jalan dan di mall-mall, menganggap corona sebagai sesuatu yang jauh dari mereka. Mereka yang keluar untuk bekerja agar dapur tetap mengepul mungkin masih bisa dimaklumi, tapi bagi mereka yang punya tabungan cukup untuk hidup selama sebulan atau dua bulan? Manusia akan selalu belajar dari sejarah. Kita sudah melewati banyak pandemi semenjak kita mulai membangun kota-kota. Salah satu yg terbesar adalah flu Spanyol pada 1918-1920. Di Indonesia sendiri, jutaan orang meninggal. Kini, di 2020, apakah kita akan mengulangi hal yang sama? Di masa itu, orang bingung mau melakukan apa. Kini, ketika teknologi sudah semakin maju dan pengetahuan berkembang drastis, seharusnya kita bisa menyelesaikan 'masalah' dengan cara yang terbaik. And we are doing it now! Semua komponen (kecuali mereka yang susah diatur dan ngeyel) saling bahu-membahu agar 'ancaman' bagi umat manusia ini bisa dikalahkan.


Niscaya, di tahun 2120, ketika generasi yang datang kemudian membahas bagaimana manusia menang, seorang sejarawan akan mengatakan "dengan rebahan". - Batara Al Isra

Foto: Humaidi AR

Hikmahnya? Virus ini menyatukan kita. Orang-orang saling membantu dengan apa yang mereka punya. Tanpa melihat apa dan siapa. Tenaga medis berjuang di garis depan, dermawan menyumbangkan hartanya demi menyuplai logistik yang dibutuhkan, pemuka agama menyerukan 'jihad' melawan musuh yang tak terlihat, dan para pemimpin negara memanggil seluruh rakyat sipil untuk berperang. Berjuangnya bukan dengan mengangkat senjata, tapi cukup #dirumahaja. Niscaya, di tahun 2120, ketika generasi yang datang kemudian membahas bagaimana manusia menang, seorang sejarawan akan mengatakan "dengan rebahan". Bagi mereka yang masih berkeliaran dengan alasan yang tidak substansial, maukah kalian dikenang sebagai salah satu alasan mengapa pandemi ini tidak selesai-selesai? Bagi mereka yang selalu setia di rumah bersama keluarga, mungkin di minggu kedua #dirumahaja membuat kita bosan. Banyak hikmah yang sebetulnya bisa kita ambil dari ini semua. Keluarga yang dulunya jarang bercerita karena kesibukan kita bisa lebih dekat, persis sewaktu internet belum marak, atau persis sewaktu kita kecil, ketika listrik mati dan kita bermain bayangan dengan cahaya lilin. Sekaranglah waktunya, menjadikan rumah sebagai 'rumah', tempat pulang, tempat kita berbahagia, bukan sekadar tempat makan dan terlelap untuk pergi lagi esok harinya.


Sekaranglah waktunya, menjadikan rumah sebagai 'rumah', tempat pulang, tempat kita berbahagia, bukan sekadar tempat makan dan terlelap untuk pergi lagi esok harinya. - Batara Al Isra

Mungkin juga, bumi kita sedang istirahat. Ada pandangan yang bilang bahwa jangan-jangan, manusia, dengan segala ketamakan yang kita miliki, adalah virus bagi bumi itu sendiri dan apa yang kita anggap virus adalah antibodi dari 'ibu' yang bernama bumi.


Sebuah plot twist, bukan?